Elektabilitas Buku dan Epilogi Hidup

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , on Oktober 26, 2009 by tarbiyyahcrew

Bagi anda yang menjadikan buku sebagai makanan sehari-hari (meminjam istilah Hernowo), pastilah anda tak melewatkan satu hari pun tanpa membaca buku. Tiada hari tanpa membaca, tentu bukan hanya sekadar slogan yang tertera dalam sampul buku tulis saja. Anda benar-benar tak melewatkan buku yang menurut anda menggugah minat, menumbuhkan inspirasi, menambah pengetahuan, atau hanya bacaan aktivitas di waktu senggang. Demikian pula saya. Kehidupan saya tak pernah terlepas dari buku-buku yang saya pilih ketika saya menjalani aktivitas sehari-hari.
Elektabilitas (keterpilihan) buku memang mempunyai korelasi langsung dengan hidup dan berbagai penggalan kisahnya. Itulah yang saya dapat ambil dari aktivitas LDK EXPO 2009, Mei-Juni 2009 lalu. Diantara serangkaian kegiatan perlombaan, seminar dan bazaar, ada kegiatan taman bacaan. Taman Bacaan itu merupakan kumpulan dari koleksi buku anggota LDK. Mahasiswa bisa berbagi apa saja buku yang dimiliki, dan bisa meminjam buku yang menurut mereka sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan. Kiranya itulah yang menjadikan buku memiliki nilai elektabilitas yang tinggi.
Buku juga mencerminkan kepribadian pemiliknya. Apakah buku itu memberdayakan potensi atau memperdayakan potensi (lagi-lagi meminjam istilah Hernowo), itu berganting pemiliknya. Tentu sangat berbeda jika seseorang katakanlah mempunyai buku Komik Crayon Sinchan, buku Eragorn, Komik Doraemon dengan seseorang yang mempunyai buku Tafsir Fil Zhilalil Qur-an Sayyid Quthb, La Tahzan Aidh Al-Qarni, dan Menuju Cahaya Anis Matta. Berbeda pula dengan orang yang mengonsumsi komik Naruto dengan orang yang membaca Seven Habbits For Highly Effective Teens Sthephen R Covey. Ingatlah satu hal ketika anda hendak membeli buku, apakah buku itu memberdayakan atau memperdayakan. Pilihlah buku bermutu.

Buku dan Epilogi Kehidupan
Ketika saya membeli buku, saya tidak pernah lupa untuk mencatat tanggal pembelian buku tersebut. Selain untuk mengingatkan saya berapa buah buku yang saya beli tiap bulannya, saya juga ingin mengingat saat-saat kapankah buku itu dibeli. Katakanlah, ketika saya lulus SMA, saya merasa hidup demikian sulit. Maka saya membeli buku Kok Hidup Jadi Sulit, Sih? Karya Dado Mulyana. Saat saya sedih saya membaca buku La Tahzan, ketika saya jatuh cinta, saya membeli buku yang membuat saya mengerti dan paham bagaimana menyalurkan cinta agar menjadi energi positif, bukannya membuat kita jadi tidak produktif atau membuat kita futur. Sebut saja buku Jangan Nodai Cinta (O. Solihin dari Gema Insani Press), Taman Orang-Orang Jatuh Cinta (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah) Ajari Aku Cinta, dan Cinta Kita Beda. Pun demikian halnya ketika kampus sedang libur, maka saya gunakan waktu luang saya untuk mentarbiyyah (baca: membina) diri saya lewat buku Pak Cah atau Cahyadi Takariawan lewat bukunya Keakhwatan 1.
Ketika beberapa teman saya sibuk menghadapi tes perguruan tinggi atau pekerjaan, maka buku psikotes dan kumpulan soal SPMB tentulah lebih mereka butuhkan ketimbang majalah-majalah musik atau majalah mode. Itulah yang saya maksud dengan elektabilitas buku.
Adapun kaitan buku dengan kisah hidup seseorang juga bukan hanya sekadar interaksi antara konsumen dengan kebutuhannya saja. Tapi juga antara penulis dengan kehidupannya. Penulis gemar menuangkan gagasannya, sesuatu yang ia renungkan dan ia simpulkan dari pemikiran-pemikirannya. Semua itu tertuang lewat benda yang disebut dengan buku. Apabila buku tersebut sampai ke tangan pembaca, maka yang merasakan manfaatnya bukan hanya penulis yang mendapatkan royalti tapi juga konsumen yang merasa terbantu dengan buku yang ditulis penulis.