Oleh: tarbiyyahcrew | Juni 12, 2010

Seperti Engkau Malu terhadap Orang Shalih



Oleh : Muhammad Lili Nur Aulia

Saudaraku,
Salah satu rahasia mahalnya anugerah Allah SWT kepada kita berada di jalan orang-orang shalih adalah, karena kita mendapat pencerahan dan penyegaran luar biasa dari mereka. Bisa karena ruh keshalihannya yang otomatis terpancar dari dirinya, atau bahkan dari kata-katanya. Atau bahkan suasana hati yang menjadi lebih tunduk, takut kepada Allah, urung melakukan kemaksiatan, karena keberadaan mereka.

Seperti dahulu, para sahabat Rasulullah SAW kerap meminta nasihat dan wasiat pada Rasulullah SAW, dalam banyak kesempatan. Dan Rasulullah SAW menyampaikan nasihatnya dengan sangat bijak dan begitu mengesankan. Hingga suatu ketika seorang sahabat bernama Sa’id bin Yazid Al-Azdi r.a. memnita pada Rasulullah SAW, “Nasihatilah aku…” ujarnya kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Aku wasiatkan engkau agar malu kepada Allah SWT sebagaimana engkau malu dari orang yang shalih.” (HR. Ahmad)

Saudaraku,
Memberikan nasihat kepada seorang mukmin yang meminta nasihat kepada saudaranya, termasuk sunnah Rasulullah SAW untuk dipenuhi. Hadits itu memberi permisalan yang mendekatkan logika penanya, terhadap substansi nasihat yang disampaikan Rasulullah SAW. Tentang bagaimana cara kita bisa menghalangi diri dari dosa. Tentang bagaimana kita bisa memaknai rasa malu dari dosa dengan rasa malu kita terhadap sesuatu yang kita segani. Tentang bagaimana pikiran dan perilaku kita seharusnya bisa terpengaruh oleh kondisi orang yang melihat kita, terlebih oleh Allah SWT yang Maha melihat dan Maha Mengetahui.

Malu kepada Allah SWT, jelas sikap mulia. Sikap malu kepada Allah SWT, juga jelas tidak sama dengan sikap malu terhadap manusia, berapapun tingkat dan derajat manusia itu. Tapi hadits tadi hanya memunculkan gambaran yang bisa dipahami, tentang rasa malu berbuat dosa. Dan bila seseorang telah memiliki sikap malu kepada Allah SWT, sikap itulah yang mampu menjadi benteng penghalang seseorang dari perilaku jahat, kapanpun, di manapun, dalam kondisi papaun. Penghalang dosa seperti itu takkan datang bila sikap malu, hanya berasal dari manusia atau dari keadaan tertentu.

Saudaraku,
Barangkali banyak orang yang belum terlalu merasakan bila Allah SWT memantau dan Maha Mengetahui keadaan dirinya. Sementara orang-orang shalih dahulu, adalah orang-orang yang memiliki rasa malu yang tinggi kepada Allah SWT. Tingkat rasa malu mereka kepada Allah SWT, sampai dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan. Dalam hadits Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.a. ditanya tentang firman Allah SWT, surat Hud ayat 5, yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

Ibnu Abbas mengomentari ayat ini dengan mengatakan, “Dahulu orang-orang yang memiliki rasa malu menyendiri dan menjauh dari keadaan berada langsung di bawah langit, dan mereka tidak mau berhubungan badan dengan istri-istri mereka. Lalu turunlah ayat itu atas mereka.” Abu Bakar Shidiq mengatakan, “Malulah kalian kepada Allah, sungguh aku pergi membuang hajat lalu aku berlindung dengan bajuku karena malu dengan Rabbku…” Bahkan Abu Musa mengatakan, bila ia mandi di sebuah rumah yang gelap, ia tidak berani berdiri karena malu kepada Allah SWT.”

Karena rasa malu itu pula, Aisyah r.a. tidak masuk ke lokasi pemakaman Rasulullah SAW kecuali dengan aurat tertutup rapat. “Dahulu aku sering mendatangi makam Rasulullah SAW dan makam ayahku (Abu Bakar Shiddiq r.a.) dan aku mungkin melepas sebagian kainku dengan mengatakan bahwa itu adalah makam suamiku dan ayahku. Tapi ketika Umar r.a. juga dimakamkan di lokasi pemakaman itu, aku tidak datang ke sana kecuali dalam kondisi pakaianku tertutup rapat karena malu dengan Umar r.a.” (HR. Hakim)

Saudaraku,
Itulah sebabnya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa rasa malu selalu saja mendatangkan kebaikan. Sebab andai hilang rasa malu, munculnya raa biasa dan tidak peduli dengan penilaian orang, terlebih penilaian Allah SWT, maka itu merupakan salah satu pemicu perilaku dosa. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk hukuman terhadap pelaku kemaksiatan adalah, hilangnya rasa malu yang sebenarnya malu itu adalah unsur hidupnya hati dan asal muasal semua kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya kebaikan seluruhnya. Karena di dalam hadits shahih Rasulullah SAW bersabda, “Rasa malu itu seluruhnya adalah baik.”

Coba kita perhatikan lagi lebih jauh perkataan Ibnul Qayyim lebih lanjut dalam kitab Ad-Daa’u wa Ad-Dawaa; itu yang mengatakan, bahwa orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti ia tidak mempunyai anasir kemanusiannya, kecuali hanya daging dan darah serta bentuk tubuh lahir mereka saja.” Artinya, dalam kondisi seperti itu, manusia sudah sama seperti hewan, perbedaannya hanya masalah daging, darah dan bentuk lahirnya.

Saudaraku,
Rasa malu bisa diwujudkan dengan menumbuhkan pengenalan kita yang lebih dalam atas kekuasaan Allah SWT. Sebab semakin sadar seseorang atas ke-Maha Kuasa-an Allah SAW, semakin kecillah ia menyadari nilai dirinya. Rasa malu bisa juga didorong dengan bagaimana kita melihat orang lain yang begitu menjaga dirinya dari dosa. Rasa malu, juga bisa tersentuh oleh keberadaan kita bersama orang-orang baik, orang-orang yang terbiasa memaksa diri untuk berlaku lurus, di manapun dan kapanpun.

Kita harus belajar dari mereka, saudaraku.
Mari sama-sama berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah SWT dari menjadi golongan orang-orang yang tidak tahu malu. Dari mereka yang tak kenal malu kepada manusia, terlebih kepada Allah SWT Umar mengatakan, “Barangsiapa yang sedikit rasa malunya, berarti sedikit pula sikap wara’nya. Dan hatinya telah mati.”

[Sumber : Rubrik Ruhaniyat Majalah Tarbawi edisi 224]

Oleh: tarbiyyahcrew | Juni 12, 2010

Para Pewaris Nabi


http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/para-pewaris-nabi.html

Seperti ketika kita sedang mencari alamat tertentu, kita biasanya bertemu dengan berbagai orang di sepanjang jalan yang dapat kita tanyai. Kita tetap memerlukan orang-orang seperti itu sekalipun ada peta di tangan kita. Bahkan sekalipun peta sudah sangat jelas dan mudah.

Allah mengerti kebutuhan itu. dan orang-orang yang kita tanyai di sepanjang jalan itu adalah para ulama. Sebagai peta jalan kehidupan, Allah telah membuat semua petunjuk dalam Al-Qur’an begitu mudah dan jelas. Sebegitu mudah dan jelasnya, hingga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagian besar isinya dapat dipahami oleh sebagian besar manusia dengan hanya menggunakan akal sehat. Hanya sedikit sekali yang tidak kita pahami. Dan itu adalah wilayah para ulama.

Begitulah Allah SWT memfasilitasi proses pembelajaran manusia. Ketika ia memutuskan nubuwwah, dan menyisakan teks serta mengabadikannya, membiarkan manusia bergelut dengannya, Ia tetap membuatnya tidak sampai pada batas kesulitan yang bisa menghempaskan manusia dalam keputusasaan. Di samping memudahkan isi dan bahasa dari teks tersebut, Allah SWT juga membangkitkan orang-orang tertentu yang mewarisi kerja-kerja kenabian walaupun tidak memberikan status nubuwwah: yaitu mengajar manusia.

Dalam makna pewarisan itulah Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para nabi itu tidak mewarsikan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, sungguh ia telah mendapatkan jatah (warisan) yang banyak”. Para pewaris nabi itu adalah kafilah panjang yang akan terus menerus mengisi ruang kehidupan manusia dan mempertahankan jejak kenabian dalam narasi zaman. Jumlah mereka tidak banyak. Tapi selalu tampak seperti tugu kehidupan yang tegak dengan kekar. Dalam rangkaian itulah Rasulullah SAW menyampaikan janji Allah SWT bahwa ia akan membangkitkan pada setiap rotasi seratus tahun para ulama yang akan memperbaharui ajaran agama ini.

Mewariskan kerja nubuwwah tanpa memberikan statusnya adalah salah satu rahasia Allah SWT dalam memudahkan manusia menemukan alamat kehidupannya. Dengan begitu Allah menutup semua pintu yang dapat dijadikan alasan oleh manusia untuk tidak menemukan alamat yang ditujunya.

Kehadiran para pewaris nabi itulah yang menjelaskan kepada kita sebuah rahhasia sejarah tentang mengapa Islam pasti akan memenangkan pertarungan dengan agama dan ideologi lain dalam merebut akal dan hati manusia. Maka keabadian teks itu bersanding harmoni dengan jumlah pemeluk agama ini yang terus bertambah dan memenuhi ruang bumi kita hingga kiamat kelak. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 230]

Oleh: tarbiyyahcrew | Juni 12, 2010

Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah


Judul Buku : Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah
Penulis : Umar Hidayat
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Rabiul Akhir 1431 H/Maret 2010
Tebal Buku : xxiv + 216 halaman

Li kulli marhalatin rijaaluha. Setiap fase dakwah memerlukan kader yang tepat. Setiap mihwar membutuhkan kader dengan karakter dan kompetensi yang khas, sebab tantangan di setiap mihwar juga berbeda. Lalu kader seperti apa yang dibutuhkan dalam mihwar daulah? Umar Hidayat melalui buku ini mengistilahkan kader itu sebagai Rijalud Daulah. Sosok kader mihwar daulah adalah Rijalud Daulah yang juga dijadikan judul buku ini.

Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah secara umum dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi landasan filosofis yang mengantarkan lahirnya Rijalud Daulah dan bagaimana deskripsi karakter Rijalud Daulah serta kontribusi yang harus diperankannya. Sedangkan bagian kedua membahas 10 langkah tradisi Rijalud Daulah yang meliputi:
1. Menemukan mutiara di akar rumput
2. Rumahku markas perubahan
3. Mengubah telatan menjadi teladan
4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita
5. Menata kekuatan ta’aruf
6. Menyirami jiwa silaturahmi
7. Bersalaman dengan ‘musuh’
8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan
9. Visi majelis iman kaum sarungan
10.Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan wanita.

Dalam buku ini, Rijalud Daulah sering disebut dengan istilah Sang Pejuang. Sebab ia memang berjuang untuk Islam dan untuk negara. Keduanya bukan merupakan dua kepentingan yang harus didikotomikan. Sebab negara saat sudah diwarnai dakwah, ia juga akan sejalan dengan Islam. Dan inilah yang dicita-citakan dalam mihwar daulah.

Konteks Dakwah Kenegaraan di Indonesia
Sebelum berbicara lebih jauh tentang Rijalud Daulah, bagian pertama buku ini terlebih dulu mengajak kita untuk memahami konteks dakwah kenegaraan di Indonesia.

Diawali perspektif negara dalam Islam, dikemukakan oleh Umar Hidayat bahwa negara Islam itu berdiri di atas landasan akidah Islam. Segala peraturan dan sistem dalam negara Islam harus bersumber dari akidah Islam. Sedangkan sistem pemerintahan Islam ditegakkan di atas empat pilar utama:
1. Kedaulatan di tangan syara’
2. Kekuasaan milik umat
3. Mengangkat satu khalifah hukumnya fardhu bagi seluruh kaum muslimin
4. Hanya khalifah yang berhak melakukan tabanni (adopsi) terhadap hukum-hukum syara’

Namun dalam konteks keindonesiaan, yang hendak diwujudkan Rijalud Daulah jelas bukan Islamic State atau Negara Islam. Rijalud Daulah ingin menegakkan masyarakat madani; bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dengan tidak memprioritaskan hal-hal yang bersifat simbolik.

Karakter Rijalud Daulah
Rijalud daulah adalah manusia biasa yang memiliki jiwa besar, lahir dari sejarah, besar karena belajar dari sejarah hingga ia bisa membuat sejarah baru. Dengan demikian, siapapun bisa menjadi Rijalud Daulah; asalkan ia menempa dirinya dan selalu memetik hikmah, menyediakan diri menjadi agen perubahan, dan berupaya membentuk karakternya sebagai Rijalud Daulah.

Karakter Rijalud Daulah yang dimaksudkan untuk dicapai dan dimiliki adalah sebegai berikut:
1. Pribadi Muslim. Rijalud Daulah harus memiliki kepribadian islami (syakshiyah islamiyah). Kepribadian ini yang kemudian mendasari setiap langkahnya, cara berpikirnya, dan cara bersikap dalam kehidupannya.
2. Murabbi Produktif. Rijaluddaulah harus terlibat aktif dalam aktifitas tarbiyah dengan menjadi murabbi yang melahirkan kader-kader dakwah.
3. Menghargai Waktu. Rijalud Daulah adalah sosok yang disiplin dan menghargai waktu; memiliki manajemen waktu yang baik sekaligus manajemen prioritas sehingga bisa bertindak efektif dalam memanfaatkan waktu.
4. Militansi. Rijalud Daulah adalah manusia yang memiliki militansi unggul. Seperti halnya Yahya yang diperintahkan Allah untuk mengemban amanah dengan penuh kesungguhan (jiddiyah) dan azzam yang tinggi seperti Ulul Azmi. Militansi juga berarti komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada dakwah, kebenaran, dan jamaah dalam beramal jamai.
5. Visioner. Dengan visi yang jauh ke depan, membawa Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur, Rijalud Daulah bisa mengarahkan segala langkahnya agar efektif dan tidak salah arah.
6. Komunikatif. Sebelum menjadi Rijalud Daulah, ia sudah terlatih lebih dulu sebagai Rijalud Dakwah, yang akrab dengan fiqih dakwah dan pendekatan sesuai kadar akal dan medan yang dihadapi.
7. Profesional. Rijalud Daulah harus mampu menunjukkan keunggulan kompetitif dan komparatifnya, di samping bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi serta memenuhi SOP dan amanah.
8. Moderat dan Toleran. Rijalud Daulah bukan sosok yang ekstrem dan mengedepankan ashabiyah, melainkan menguasai dan menerapkan fiqih dakwah dan fiqih muwazanah dengan baik.
9. Berwawasan politik, kebangsaan, dan ketatanegaraan. Karena Rijalud Daulah bekerja dalam konteks kepemimpinan dan kenegaraan (menurut level atau domain amalnya masing-masing), maka ketiga wawasan ini sangat penting dan menjadi bekal yang sangat urgen di mihwar daulah.
10. Jiwa Kepemimpinan dan ketokohan. Rijalud Daulah harus menjadi pemimpin sesuai lingkup amanahnya. Ia juga harus membangun ketokohan, yang sesungguhnya ketokohan ini bisa direkayasa dengan difasilitasi oleh amal jamai.
11. Pelopor perubahan. Rijalud Daulah yang menjadi pengganti generasi sebelumnya dalam mengelola negara ini, harus bisa menjadi pelopor perubahan ke arah perbaikan.
12. Sederhana dalam hidupnya. Rijalud Daulah adalah sosok yang berkhidmat pada tugas-tugasnya, karenanya ia pandai mengelola hartanya untuk sekadar mencukup kehidupan. Berlaku zuhud mungkin adalah bahasa yang tepat, yang justru semakin meneguhkan kemulian.

Pada akhirnya, dalam kontkes ke-Indonesia-an, Rijalud Daulah harus berkontribusi bagi bangsa ini. Kontribusi itu meliputi kontribusi pemikiran, kontribusi harta, kontribusi (pengorbanan) jiwa, kontribusi pengetahuan, kontribusi ketrampilan, dan kontribusi waktu.

Langkah Tradisi Rijalud Daulah
1. Menemukan mutiara di akar rumput
Yakni kemampuan melakukan isti’ab khariji (rekrutmen eksternal), mencari orang-orang terbaik di masyarakat untuk diberdayakan menjadi bagian dari proyek kebaikan.

2. Rumahku markas perubahan
Yakni kemampuan untuk mengelola keluarga menjadi keluarga muslim dan keluarga dakwah. Keluarga yang menjadi contoh dan teladan. Keluarga yang mampu melakukan taurits tarbawi (pewarisan tarbiyah) kepada generasi berikutnya.

3. Mengubah telatan menjadi teladan
Rijalud Daulah harus membiasakan diri bertindak cepat dan tepat. Menjadi teladan. Tradisi telat harus diubah. Entah itu telat merespon, telat mengambil keputusan, telat mengantisipasi perubahan, dan sebagainya.

4. Menyambung sayap-sayap patah masyarakat kita
Bahwa kondisi kaum muda dan pelajar di negeri ini yang masih perlu peningkatan pendidikan bisa diibaratkan sayap-sayap patah. Mereka tidak bisa terbang. Maka mendidik generasi muda dan para pelajar adalah kebutuhan yang harus dibiasakan, ditradisikan. Bersamaan dengan itu, Rijalud Daulah juga berupaya merekonstrukri tata nilai dan orientasi kebutuhan hidup masyarakat yang sejalan dengan Islam.

5. Menata kekuatan ta’aruf kita
Bagian terpenting dari bahasa komunikasi publik adalah identitas. Jika identitas kita jelas dan kita memahami identitas masyarakat dengan jelas pula, terlebih mampu membentuk identitas mereka maka kohesi sosial dan politik lebih mudah terjadi. Identitas yang baik harus dibarengi dengan kualitas amal baik secara pribadi Rijalud Daulah maupun secara jama’ah.

6. Menyirami jiwa silaturahmi
Silaturahim harus ditradisikan oleh Rijalud Daulah dan jamaah. Secara individu dengan masyarakat, dan secara jamaah dengan berbagai institusi di negeri ini terutama kepada sesama gerakan Islam. Silaturahim ini merupakan buah dari keimanan, dan ia akan membawa dampak positif berupa perluasan dan penguatan jaringan.

7. Bersalaman dengan ‘musuh’
Seni berkawan dan berkoalisi bukan hanya menuntut kemampuan mengartikulasikan diri dan nilai-nilai kita secara baik dan mempesona, melainkan juga menuntut kemampuan memahami orang lain, memasuki ruang dan hati mereka, mengelola perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan yang dinamis, dan mengantisipasi potensi ancaman untuk tidak terkristalisasi menjadi kekuatan destruktif.

8. Pilot project dapur ngebul bukan gagasan melainkan wajihah
Dakwah yang merupakan proyek besar dan membutuhkan kesinambungan di era modern mutlak membutuhkan wajihah/kelembagaan. Dengan wajihah maka tangan dakwah lebih luas menjangkau ruang-ruang yang semula sulit disentuh sekaligus solusi yang banyak dan tepat dapat dirasakan masyarakat. Maka pengembangan wajihah menjadi sangat urgen untuk dilakukan dengan berbagai upaya yang sebagian rumusannya ada dalam buku ini.

9. Masjid markas dakwah kita
Sejauh apapun dakwah telah melangkah dan mihwar apapun yang dimasuki dakwah, masjid harus tetap menjadi markas dakwah. Rijalud Daulah dengan demikian juga merupakan Rijalul Masjid, kader-kader penggerak dakwah dan pemakmur masjid.

10. Mencari maqam kemuliaan gerakan pemberdayaan wanita.
Wanita, selain jumlahnya yang lebih besar daripada laki-laki, ia juga yang sangat menentukan generasi penerus nanti. Maka gerakan pemberdayaan wanita menjadi prioritas utama dalam proyek perbaikan bangsa dan negara. Dakwah wanita setidaknya memiliki tiga urgensi; bahwa dakwah kewajiban siapapun baik pria maupun wanita, bahwa dakwah wanita merupakan bentuk pembelaan sekaligus perlawanan atas musuh-musuh Islam yang menjadikan wanita sebagai obyeknya, dan sejalan fiqih dakwah dan prioritas dakwah yang lebih wajib menjalankan dakwah kepada wanita adalah wanita. Dan sebagai istri dan ibu dalam keluarga, wanita akan sangat mempengaruhi keluarga dan kemudian menetukan warna masyarakat dan nasib negara.

Buku Keempat 100 Buku Pengokohan Tarbiyah
Buku Rijalud Daulah; Sosok Kader Mihwar Daulah ini merupakan buku keempat dari 100 buku pengokohan tarbiyah, seri mihwar daulah. Bahasanya yang khas tarbiyah disertai langkah-langkah aplikatif menjadikan buku ini berkualitas dan enak dibaca. Kader dakwah perlu memiliki, membaca, dan mengaplikasikannya. Setelah itu, semoga kita termasuk bagian dari Rijalud Daulah; sosok kader yang tepat untuk mengisi mihwar daulah. [Muchlisin]

Oleh: tarbiyyahcrew | Juni 12, 2010

Menuju Kemenangan Dakwah Kampus



Judul Buku : Menuju Kemenangan Dakwah Kampus
Penulis : Ahmad Atian
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/Mei 2010
Tebal Buku : xxii + 202 halaman

Menjelang Pemilu Legislatif 2009 lalu, sebuah televisi swasta menggelar acara Uji Kandidat. Malam itu, hadir Tifatul Sembiring sebagai peserta. Pada sesi awal setiap peserta diuji dengan kata berkait. Presenter membacakan kata/istilah, dan peserta harus menjawabnya dengan kata/istilah yang terkait erat. Salah satu kata yang dibacakan presenter acara itu adalah: “Dakwah”. Dengan cepat, hampir tanpa jeda waktu Tifatul langsung menjawab: “Kampus!”.

Itu hanya sebuah contoh betapa dakwah dan kampus adalah hal yang sangat erat dalam dunia Islam modern, termasuk di Indonesia. Sama seperti Tifatul, banyak diantara kita yang juga akan mengucapkan “kampus” untuk meneruskan kata “dakwah”.

Dakwah kampus memang memiliki kekhasannya sendiri dari dakwah-dakwah pada segmen lainnya. Ia identik dengan idealisme, semangat, dan jiwa muda. Dakwah kampus juga menjadi basis penyuplai kader. Dari dakwah kampus lahirlah kader-kader yang kemudian menjadi tulang punggung dakwah. Banyak qiyadah yang dihasilkan dari sana. Tidak salah jika kemudian dakwah kampus disebut sebagai primadona.

Kesuksesan mengelola dakwah kampus ini, dengan demikian, akan menjadi kontribusi sangat besar bagi kesuksesan dakwah secara makro. Kemenangan dakwah kampus ini, dengan demikian, adalah kemenangan awal bagi dakwah seluruhnya; di segala lini dan bidang kehidupan. Tentu saja, kemenangan dakwah kampus tidak hanya sekedar diukur dari keberhasilan mendudukkan kader dakwah sebagai presiden BEM. Tidak hanya diukur dengan maraknya masjid oleh kegiatan keislaman. Bukan hanya itu.

Buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus karya Ahmad Atian ini mengajak para Aktifis Dakwah Kampus (ADK) untuk menggapai kemenangan dakwah kampus dalam maknanya yang lebih luas. Yakni kemenangan dakwah kampus yang secara fisik terwujud dalam dua hal besar, yaitu terwujudnya masyarakat kampus madani sejahtera dan terciptanya pemerintahan kampus yang adil dan berdaulat. Masyarakat kampus madani yang dimaksud di sini adalah masyarakat kampus yang hidup dalam nilai-nilai Islam. Sementara pemerintahan kampus yang berdaulat berarti pemerintahan kampus yang menerapkan nilai-nilai Islam dengan identitas demokratis-aspiratif, kreatif dan berdaya, yang melekat padanya. Pemerintahan kampus di sini bukan sebatas pemerintahan mahasiswa, tetapi juga birokrasi kampusnya.

Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus ini, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan: dakwah prestatif, creative majority, dakwah kaya, ketokohan sosial, kepemimpinan sejati, dan maskimalisasi peran mujahidah dakwah kampus.

Dakwah prestatif artinya dakwah kampus harus menjadi rahim bagi karya-karya besar. Dakwah kampus harus menjadi basis prestasi. Creative Majority berarti dakwah kampus harus memiliki kapabilitas dalam dua hal sekaligus; kualitas dan kuantitas. Kadernya banyak dan tangguh. Berawal dari kader-kader yang kreatif, inovatif, dan pandai berstrategi. Dengan demikian pos-pos strategis dalam kampus telah diisi oleh ADK dan berada dalam koordinasi DK.

Dakwah Kaya maksudnya dakwah kampus menjadi benar-benar kaya dalam 10 hal: kaya hati, kaya akhlak, kaya ilmu, kaya materi, kaya kader, kaya visi dan cita-cita, kaya ide dan gagasan, kaya strategi dan rekayasa, kaya hubungan dan jaringan, serta kaya amal.

Ketokohan sosial dalam konteks menuju kemenangan dakwah kampus berarti menabur kiprah terbaik (KT) di tengah-tengah umat sekaligus membangun kepercayaan atau pengakuan umat terhadap kapasitas DK (Kp). Ketokohan Sosial (KS) menjadi semakin besar saat KT dan Kp meningkat nilainya.

Kepemimpinan Sejati artinya DK harus melahirkan para pemimpin sejak di dunia kampus yang efektif dan kuat. Meskipun dalam Bab 3 buku ini hanya dibatasi dalam kepemimpinan di LDK, kepemimpinan tangguh juga diperlukan di BEM dan berbagai pos strategis lainnya, termasuk birokrasi kampus. Dalam kaitan ini (juga semua langkah menuju kemenangan dakwah kampus) terlihat begitu pentingnya peran ADK Permanen.

Maksimalisasi Kiprah Mujahidah DK. Hampir semua LDK telah memiliki departemen keputrian atau sejenisnya. Yang diperlukan adalah bagaimana memaksimalkan para mujahidah dakwah kampus ini sehingga dakwah kepada muslimah yang jumlahnya lebih besar menjadi efektif.

Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap. Tahap I bersifat umum yang harus dilaksanakan pada sluruh cakupan dan tataran. Yakni meliputi: kembali kepada ashalah dakwah kampus, menghapus trauma persepsi, dan berkomitmen dengan sikap terbaik. Lalu tahap II berada pada tataran kebijakan, bersifat khusus, dan dilaksanakan oleh qiyadah. Ia terdiri atas; membuka kran komunikasi dan informasi serta memunculkan kepemimpinan baru.

Lebih jelas dan lengkapnya tentu Antum, khususnya para aktifis dakwah kampus harus membaca sendiri buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus ini secara lengkap. Buku ketujuh dari 100 buku pengokohan tarbiyah ini memang spesial untuk para mujahid kampus, para ADK, agar seperti judulnya, dengan panduan ini dakwah kampus akan mencapai kemenangannya.

Oleh: tarbiyyahcrew | Juni 12, 2010

An-Nashr dan Sebuah Refleksi Kemenangan Dakwah Kampus

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, (1) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (2), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. (3)
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat” (Q.S An-Nashr 1-3)

Kawan, mari aku ceritakan padamu tentang pemira (pemilu raya) mahasiswa di sebuah kampus lokal STKIP Garut.

Meskipun sempat cemas, lelah, dan sedikit optimis..ternyata kemenangan dakwah kampus itu telah sampai sudah pada kita semua. Allah menyapa kita dalam doa-doa yang kita panjatkan. Meski bedanya tipis…

Pasangan 1 Zona dan Jani mendapat 445 suara, Pasangan dua Abdul Mega (AM) 488 suara, Pasangan tiga Zoni Robby 416 suara.

Ah, sungguh. Saya tidak mampu berkata apapun. Terkadang saya mengungkit kejadian ini dengan hikmah yang menyertainya, terkadang saya juga merasa…bahwa ini adalah amanah yang berat. Semoga Allah senantiasa menemani langkah-langkah kita.

Teringat pula, sebelumnya, pada masa-masa kita kampanye…

“Ingatlah, dulu Fatah berkoar-koar akan memenangkan pemira di Palestina, Hamas diprediksi akan kalah. Nyatanya, atas rahmat Allah dan kuasa-Nya, karena kedekatan Hamas dengan Allah, dan doa juga amalan yaumi yang tak putus, Allah memenangkan agama ini!”

Ingatlah, Allah kan menolong orang yang menolong agama-Nya.

Oleh: tarbiyyahcrew | Mei 17, 2010

Alhamdulillah….

Bismillahirrahmanirrahim,
Kepada kader LDK At-Tarbiyyah STKIP Garut, Partisipan Lomba, Training Hypno Teaching, Seminar Muslimah, Konser Syiar dan Syair, Pembeli Bazaar, dan seluruh kru, kami ucapkan:
TERIMA KASIH
Atas partisipasi, tadhiyah (pengorbanan) antum semua dalam acara LDK EXPO 2010, ISLAMIC VILLAGE FOR US, Terbuka, Eksis, dan Solid!
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, memberikan petunjuk, dan memudahkan kita semua dalam mensyi’arkan Islam, dan menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.
Sampai jumpa di agenda LDK yang lainnya, tetap Semangat, Allahu Akbar! (^_^)/*

Oleh: tarbiyyahcrew | April 8, 2010

Tim Survei Olsen di Gunung Putri

Pada tanggal 4 April 2010 kemarin tim survei Departemen Olahraga dan Seni tiba di kaki gunung Putri, Garut Jawa Barat pukul 09.00 WIB. Dikomandoi oleh akh Nurzaman, tim suvei yang terdiri atas akh Rizal, akh Dani, akh Feri, ukh Rena, ukh Gina, ukh Deasy, ukh Reni, dan ukh Dina melakukan hiking selama 12 jam lebih. Start dari kampus STKIP Garut, maka dirasakan bahwa jarak rihlah tidaklah jauh hanya saja memerlukan kondisi yang fit karena kondisi jalan yang berbukit-bukit, curam dan kemiringan yang hampir 60 derajat maybe…)

Menurut akh Nurzaman Firdaus (Bio ’07/ sekum LDK At-tarbiyyah), pendakian ini dapat diibaratkan orang yang sedang berjuang di jalan dakwah. Di perjalanan, akan ada orag yang putus asa, lemah semangat, yang kuat dan solid, ada yang sok tahu (tidak turut pada qiyadah akhirnya nyasar), ada yang jatuh (namun karena didukung oleh mukmin yang kuat akhirnya dapat mencapai puncak).

Sampai sekarang, masih disyuro’kan apakah rihlah fix dilakukan ke Gunung putri atau tidak, mengingat sewaktu survei, ternyata bu Kadep Olsen sedang tidak fit.

Oleh: tarbiyyahcrew | April 8, 2010

10 Prinsip Dakwah

10 Prinsip Dakwah

1) Al-fahmu (paham)

2) Al-ikhlas

3) Al-amal

4) Al-Jihad

5) At-tadhiyah (pengorbanan)

6) At-ta’at

7) At-tsabat (teguh/ kuat)

8) At-tajarud (totalitas)

9) Al-Ukhuwah

10) Ats-tsiqoh (kepercayaan)

Oleh: tarbiyyahcrew | April 8, 2010

Sang Murrabi

Aksi Solidaritas Palestina

Ribuan langkah kau tapaki, pelosok negeri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu, sampaikan firman Tuhanmu…

Terik matahari, tak surutkan langkahmu

Deru hujan badai, tak lunturkan azammu

Raga kan terluka, tak jerikan nyalimu

Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua mahluk bertasbih, panjatkan ampun bagimu

Semua mahluk berdoa, limpahkan rahmat atasmu…

Duhai pewaris nabi, duka fana tak berarti

Surga kekal nan abadi, balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami, kau semai nilai nan suci

Tegak panji illahi, bangkit generasi rabbani (Izzis-Sang Murabbi)

Oleh: tarbiyyahcrew | Januari 2, 2010

Catatan Pertemuan

Klub Jurnalistik
Departemen Olahraga dan Seni
LDK AT-Tarbiyyah STKIP Garut
Garut, 1 Januari 2009 pukul 9.00 WIB

Pemateri: Ust. Hamzah (STAIPI)
Ust. Yan Yan (FLP Garut)

Ide: Perayaan Tahun Baru
Kegelisahan Hati di Awal Tahun

Aku heran dengan orang-orang. Mengapa mereka harus menunggu awal tahun untuk memulai segalanya. Mengapa mereka harus memperbaharui semangat mereka di awal tahun, bukan di setiap keseharian mereka. Mengapa mereka menaruh harapan dan mimpi juga peruntungan di awal tahun, bukan di waktu pagi ketika mulai bangun tidur dan beraktivitas. Mengapa mereka harus mengucapkan doa mereka tepat pukul 12.00 malam, padahal Allah senantiasa mendengar doa mereka sepanjang waktu. Mengapa mereka harus menyalakan kembang api dan terlena dalam kegembiraan sesaat, padahal bila ditafakuri, sesungguhnya hidup itu hanyalah mainan waktu. Sungguh mereka termasuk orang yang merugi. Semoga kita bukan bagian dari mereka. Amin. (Deasy A.D)

Ilham: Kesulitan Hidup
Ide: Makna Hidup

Hidup ini indah jika kita ingin membuatnya indah. Keputusan ada di tangan kita, mau dibagaimanakan hidup ini? Kehidupan ini bagaikan sebuah drama ya? Atau sinetron, dimana sutradara kita adalah Sang Khaliq yang selalu memantau akting kita sebagai aktornya. Sang Khaliq sudah menyiapkan scenario indah buat kita yang menjadikan surga sebagai ending hidup kita. Jikalau kita menyadari hal itu, sepatutnya kita menjadi actor-aktor yang terbaik. Hidup kita juga kadang terasa maya. Hidup ini juga terkadang terasa sulit dan menyiksa kita tatkala masalah berdatangan. Padahal masalah itu adalah bagian dari skenario Sang Maha Sutradara yang harus kita lewati.
Sebenarnya masalah adalah rencana Allah SWT kita sebagai mahluk, agar dapat kita lewati, dengan masalah kita bisa menjadi dewasa dalam perjalanan hidup, dengan masalah kita bisa merasakan liku kehidupan seperti apa? Sepatutnya kita harus senang ketika ada banyak masalah dalam kehidupan kita, karena akan ada sesuatu perubahan dalam diri kita, tatakala kita sudah melewati masalah itu. Maka, hadapilah masalah kita, cari solusi yang terbaik atas masalah kita! (Fitri Tilawatil)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.